Kayu Alternatif Pengganti Sengon

Sengon adalah jenis pohon yang sangat populer di masyarakat untuk berbagai keperluan. Namun, seiring kelemahan sengon yang kerap terserang hama dan penyakit, pohon jabon muncul sebagai alternatif pengganti sengon.

Sabtu (31/1), Himpunan Profesi Mahasiswa Tree Grower Community (TGC) Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) mengadakan seminar bertajuk Peluang Investasi Kebun Jabon Sebagai Pengganti Sengon di Lahan Tidur.

Menurut Prof Surdiding Ruhendi yang menjadi pembicara dalam kegiatan itu, tanaman jabon memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan karena bernilai ekonomis tinggi. “Saya rasa tanaman jabon cukup memenuhi syarat untuk industri kayu lapis. Kayu jabon mudah dibuat venir (lapisan tipis kayu yang diperoleh dengan cara dikupas, red) dan mudah dikeringkan,” paparnya.

Surdiding mengemukakan pemanfaatan jabon cukup banyak. Diantaranya sebagai bahan baku korek api, peti pembungkus, cetakan beton, mainan anak-anak, pulp dan konstruksi darurat yang ringan.

Hal tersebut juga ditegaskan pembicara PT Andatu Lestari Plywood Lampung Artha Aryesta. Menurut dia, keterbatasan bahan baku menyebabkan perusahaan-perusahaan yang memproduksi kayu lapis harus memilih kayu-kayu yang terdapat pada lahan masyarakat sekitar.

“Misalnya, perusahaan kami bekerjasama dengan masyarakat tani sekitar. Kami bagikan bibit dan setelah panen kami pasti beli kepada petani yang bersangkutan dengan harga yang pantas,” paparnya.

Pohon jabon itu sendiri adalah jenis pohon asli Indonesia yang secara alami menyebar di seluruh Sumatera, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Selatan dan sebagainya. Pohon ini memiliki bebas cabang 30 meter dan memiliki diameter hingga 160 sentimeter.

Menurut Irdika Mansur yang juga menjadi pembicara seminar, pohon jabon bisa dikatakan sebagai salah satu jenis pohon unggulan. Selain bisa merontokkan sendiri cabang-cabangnya, pohon jabon juga memiliki kecepatan tumbuh yang relatif singkat. Pohon jabon berpotensi dikembangkan sebagai pengganti sengon yang kerap terserang hama dan penyakit.

Pembicara lain dalam seminar tersebut adalah Dirjen Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial (RLPS) Indriastuti. Dia menjelaskan tentang bagaimana potensi lahan kritis untuk pengembangan jabon. Dalam pemaparannya berdasarkan hasil identifikasi Balai Pengelolaan DAS, di Indonesia terdapat 77 juta hektare lahan kritis. Untuk itu, dia sangat mendukung kebijakan pemerintah dalam hal rehabilitasi hutan.

Menurut dia, program-program Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) seperti Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GERHAN) perlu terus ditingkatkan.

Selain mahasiswa, hadir pula kelompok tani dari berbagai daerah seperti Sumedang, Banjarnegara, Cihideung dan sebagainya. Tak ketinggalan elite bisnis turut hadir dan diharapkan bisa ikut ambil bagian dalam pemanfaatan pohon jabon.

Menurut Ketua TGC Muhammad Rifai, acara ini untuk menginformasikan dan memberi gagasan kepada masyarakat terkait peluang investasi kebun jabon sebagai alternatif tanaman sengon. Melalui seminar ini, TGC juga mendukung dan merangsang minat masyarakat maupun elite bisnis dalam program pemanfaatan lahan tidur.

Sumber : Radar Bogor -http://kayujabon.blogspot.com-
Tags : jabon, kayu, jabon, bibit, jabon, kayu jati, jabon, pohon, sengon, jabon, albasia, jabon, pohon, jabon

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Kayu Meranti

Meranti merah
Meranti merah adalah nama sejenis kayu pertukangan yang populer dalam perdagangan. Berbagai jenis kayu meranti dihasilkan oleh marga Shorea dari suku Dipterocarpaceae.
Sifat-sifat kayu
Meranti merah tergolong kayu keras berbobot ringan sampai berat-sedang. Berat jenisnya (Berat jenis adalah perbandingan relatif antara massa jenis sebuah zat dengan massa jenis air murni. Air murni bermassa jenis 1 g/cm³ atau 1000 kg/m³).berkisar antara 0,3 – 0,86 pada kandungan air 15%. Kayu terasnya berwarna merah muda pucat, merah muda kecoklatan, hingga merah tua atau bahkan merah tua kecoklatan. Berdasarkan
BJnya, kayu ini dibedakan lebih lanjut atas meranti merah muda yang lebih ringan dan meranti merah tua yang lebih berat. Namun terdapat tumpang tindih di antara kedua kelompok ini, sementara jenis-jenis Shorea tertentu terkadang menghasilkan kedua macam kayu itu.

Menurut kekuatannya, jenis-jenis meranti merah dapat digolongkan dalam kelas kuat II-IV; sedangkan keawetannya tergolong dalam kelas III-IV. Kayu ini tidak begitu tahan terhadap pengaruh cuaca, sehingga tidak dianjurkan untuk penggunaan di luar ruangan dan yang bersentuhan dengan tanah. Namun kayu meranti merah cukup mudah diawetkan dengan menggunakan campuran minyak diesel dengan kreoso
Pemanfaatan
Meranti merah merupakan salah satu kayu komersial terpenting di Asia Tenggara. Kayu ini juga yang paling umum dipakai untuk pelbagai keperluan di kawasan Malesia.
Kayu ini lazim dipakai sebagai kayu konstruksi, panil kayu untuk dinding, loteng, sekat ruangan, bahan mebel dan perabot rumahtangga, mainan, peti mati dan lain-lain. Kayu meranti merah-tua yang lebih berat biasa digunakan untuk konstruksi sedang sampai berat, balok, kasau, kusen pintu-pintu dan jendela, papan lantai, geladak jembatan, serta untuk membuat perahu.
Meranti merah baik pula untuk membuat kayu olahan seperti papan partikel, harbor, dan venir untuk kayu lapis. Selain itu, kayu ini cocok untuk dijadikan bubur kayu, bahan pembuatan kertas.
Beberapa jenis meranti merah menghasilkan buah yang mengandung lemak serupa kacang, yang dikenal sebagai tengkawang. Pada musim-musim tertentu setiap beberapa tahun sekali, buah-buah tengkawang ini dihasilkan dalam jumlah yang berlimpah-ruah; musim mana dikenal sebagai musim raya buah-buahan di hutan hujan tropika. Di musim raya seperti itu, masyarakat Dayak di pedalaman Pulau Kalimantan sibuk memanen tengkawang yang berharga tinggi.
Pengolahan.
Kayu meranti gampang di olah menjadi produk pertukangan berupa kusen pintu jendela dll,kayu meranti sebagai kayu yang dapat dikerjakan sangat mudah dan halus serat texturnya. Sebagian kayu meranti yang sudah diperdagangkan tidak sesuai dengan standar baku ukurannya, biasanya kami sering mendapatkan ukuran panjang (misal 4 m) tak ada sessuai dengan ukurannya, sehingga menyulitkan bagi pertukangan untuk mengatur kayu dalm pembuatan seperti kusen, pintu dan jendela.Harga kayu meranti yang tak begitu mahal menjadikan pilihan bagi bahan pembuatan matrial kusen, pintu, jendela.
Tags : jabon, kayu, jabon, bibit, jabon, kayu jati, jabon, pohon, sengon, jabon, albasia, jabon, pohon, jabon

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

TEKNOLOGI BAHAN KAYU

Di dalam teknologi bahan kayu ini terlebih dahulu akan dibahas masalah struktur kayu, ini penting diketahui adalah untuk menentukan bagiankayu yang mana yang baik untuk pembuatan karya dan bagian-bagian kayu yang mana saja yang tidak baik dalam pengerjaan karya ukir maupun karya kriya.

Stuktur Kayu

Kayu sebagian besar terdiri dari sel-sel pembuluh yang sumbu panjangnya sejajar dengan sumbu panjang batang. Sel-sel ini tersusun atas selulosadan diikat menjadi satu oleh bahan penyemen yang disebut lignin. Arah sumbu panjang ini diacu sebagai arah serat kayu dan penting untuk dikenal, karena sifat kayu yang sejajar serat sangat berbeda dengan yang tegak lurus terhadap serat.

Penampang pohon yang dipotong melintang dapat dijelaskan sebagai berikut:

a.      Kulit Luar (outer bark )

Bagian ini kering dan bersifat sebagai pelindung.

b.     Kulit Dalam ( bast )

Bagian ini  lunak dan basah,    untuk       mengangkut bahan  makanan dari daun ke bagiandari tumbuhan.

c.     Kambium

Berada di dalam kulit dalam. Bagian ini yang membuat sel-sel kulit dan sel-sel kayu.

d.     Kayu Gobal ( sapwood )

Biasanya berwarna keputih-putihan. Bagian ini mengangkut air dan zat makanan dari tanah ke daun.

e.      Kayu Teras ( heartwood )

Bagian ini warnanya lebih gelap dari kayu gubal. Kayu teras sebelumnya adalah kayu gubal. Perubahannya menjadi kayuteras terjadi secara perlahan-lahan. Dibandingkan kayu gubal, kayu teras umunya lebih tahan terhadap serangan serangga, bubuk kayu, jamur, dan sebagainya. Dibading kayu gubal, kayu terasinilah yang diambil dan dimanfaatkan sebagai ‘kayu’ untuk keperluan bangunan, mebelair, dan lain sebagainya.

f.       Hati ( pith )

Bagian lingkaran kecil yang berada paling tengah dari batang kayu.

g.     Jari-jari Teras ( rays )

Bagian ini yang menghubungkan berbagaian-bagian dari pohon untuk menyimpan dan peralihan bahan makanan

Kepadatan Kayu

Kepadatan kayu terkait erat dengan berat jenis kayu dan kekuatan kayu. Semakin ringan kayu semakinkurang kepadatannya, semakin kurang pula kekuatannya. Begitu juga sebaliknya.

a.      Berat Jenis

Adalah perbandingan berat dan volume kayu dalam keadaan kering udara dengan kadar air sekitar 15%.

b.     Kekuatan Kayu

Pada umumnya dapat dikatakan, kayu yang berat sekali, juga disebut kuat sekali. Kekuatan, kekerasan dan sifat teknis lain pada kayu berbanding lurus dengan berat jenisnya. Walaupun demikian ada factor lain yang mempengaruhi kekuatan kayu, yaitu susunan dari kayu tersebut.

Sifat dan Jenis Kayu

Menurut jenisnya kayu di bagi menjadi dua yaitu:

a.      Kayu Berdaun Jarum ( Konifer )

Yang termasuk dalam kategori kayu berdaun jarum seperti

Kayu Agatis ( damar, damar pilau ), kayu melur (kayu putri, kayu cina, kayu embun, jamuju ), Tusam ( hujam, pinus, markus, pine, sumatera pine )

b.     Kayu Berdaun Lebar

Yang termasuk kayu yang berdaun lebar antara lain: Kayu balsa, kayu jatu, kayu cendana, bungur, dan sebagainya.

Sifat-sifat Kayu

Menurut sifatnya kayu dibagi menjadi empat :

a.      Kelas Kayu Istimewa

b.     Kelas Kayu Awet

c.     Kelas Kayu Cukup Awet

d.     Kelas Kayu Agak Awet dan Tidak Awet

Kelas Kayu Istimewa :

Yang termasuk kayu jenis kelas awet antara lain :

1.     Kayu Balsa

2.     Kayu Jati

3.     Kayu Ebony

4.     kayu Cendana

5.     Kayu Salimuli, dsb.

Kelas Kayu Awet :

Yang termasuk jenis kayu kelas awet antara lain :

1.     Kayu Rengas

2.     Kayu Cempaka

3.     Kayu Gofasa

4.     Kayu Sono Kembang

5.     Kayu Ulin

6.     Kayu Bungur, dsb

Kelas Kayu Cukup Awet

Yang termasuk jenis kayu kelas cukup awet antara lain :

1.     Kayu Mahoni

2.     Kayu Sindur

3.     Kayu Sungkai

4.     Kayu Meranti Merah, dsb

Kelas Kayu Agak Awet dan Tidak Awet :

Yang termasuk jenis kayu kelas agak awet dan tidak awet antara lain :

1.     Kayu Jelutung

2.     Kayu Medang

3.     Kayu Surian

4.     Kayu Durian, dsb

Jenis-jenis Kayu yang Baik Untuk Pekerjaan Mengukir.

Jenis kayu yang baik untuk pekerjaan mengukir adalah jenis kayu yang memiliki serat yang halus dan padat, seratnya lurus, tidak banyak mata kayunya, dan kembang susutnya sedikit. Berikut adalah jenis kayu yang biasa di gunakan untuk Pekerjaan mengukir atau mebel.

a.      Kayu Jati : Kayu jati ini banyak di gunakan untuk perabot rumah tangga danpekerjaan mengukir, karena sifatnya yang renyah ( mudah dikerjakan ) seratnya padat dan tidak mudah di serang hama kayu. Kayu jati apabila sudah tua berwarna coklat muda, jika telah lama terkena sinar matahari dan udara warnanya menjadi sawo matang.

b.     Kayu Mahoni : Jenis kayu ini juga memiliki serat yang padat dan jarang mata kayunya,kayu mahoni juga bagus untuk pekerjaan perabot rumah tangga dan kerajinan ukir. Sifat kayu ini sedang dalam pengerjaanya, kembang susutnya sedang, tekstur dan daya retaknya sedang.

c.     Kayu Sono  keling : Kayu sono keling juga bagus untuk kerajinan ukir, serat kayunya padat. Sifatnya kayunya agak keras dan cukup liat. Warna kayu coklat kehitam-hitaman.

d.     Kayu Ebony : Sebenarnya kayu ini juga bagus untuk pekerjaan mengukir, namun karena sifat kayunya yang mudah retak dan kembang susutnya yang cukup tinggi maka perlu penanganan yang lebih ekstra. Kayu ini berwarna hitam kelabu diselang-seling warna lebih muda.

e.      Kayu Balsa : Warna kayu putih keabu-abuan, pengerjaannya mudah karena tidak terlalu keras, serat kayulurus bergelombang atau berpadu dengan tekstur yang sangat halus, maka kayu ini cocok untuk seni ukir.

f.       Kayu Rengas : Istilah lain kayu ingas, jingah, umpah. Kayu ini berwarna coklat merah darah kekuning-kuningan dengan garis-garis gelap atau kuning. Sifat kayu ini sedang sampai keras sehingga agak sulit dalam pengerjaannya, kembang susutnya kecil tapi kelemahan kayu ini daya retaknya terlalu tinggi, serat lurus terpadu sementara teksturnya agak kasar.

g.     Kayu Jelutung : Kayu ini berwarna putih atau kekuning-kuningan, mudah dikerjakan, kembang susutnya kecil, seratnya lurus dan teksturnya agak halus dan merata.

h.     Kayu Surian : Warna kayu merah daging mudah dikerjakan kelemahan kayu ini adalah daya retak dan kembang susutnya besar, seratnya lurus, bergelombang dengan tekstur agak halus

i.        Kayu Sono Kembang : Warna kayu ini kuning / coklat tua, mudah dikerjakandaya kembang susutnya kecil dan daya retaknya kecil teksturnya halus sampai dengan agak kasar dan seratnya lurus, berpadu, atau bergelombang.

Tags : jabon, kayu, jabon, bibit, jabon, kayu jati, jabon, pohon, sengon, jabon, albasia, jabon, pohon, jabon

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar